Jasa Pembuatan Medali, Jual Medali Wisuda Murah Terbaik

0 Comments

Samir wisuda merupakan salah satu perlengkapan wisuda yang wajib dipakai pada saat acara wisuda, oleh karena itu kami Jasa Pembuatan dan Tempat Jual Medali Wisuda Murah Terbaik telah menyediakan berbagai macam samir wisuda yang dapat langsung anda pesan sehingga dapat memudahkan pihak universitas untuk menyiapkan perlengkapan-perlengkapan wisudawan dan wisudawati, dibawah ini merupakan beberapa contoh samir wisuda yang sudah Jasa Pembuatan dan Tempat Jual Medali Wisuda Murah Terbaik produksi untuk klien-klie Jasa Pembuatan dan Tempat Jual Medali Wisuda Murah Terbaik, samir dibawah ini dapat anda jadikan referensi sebelum memesan.

Selayang Pandang Jasa Pembuatan Dan Tempat Jual Medali Wisuda Murah Terbaik

Euforia itu bernama Wisuda. Sebuah ritual yang memakan waktu cukup panjang untuk dapat mencapainya. Diatas kertas, 4 tahun adalah waktu tempuh normal. Namun di lapangan, terkadang waktu tempuh itu dapat bergerak maju atau mundur. Tak jarang sangking mundurnya, bisa mendekati batas akhir yang disediakan oleh penyelenggaran pendidikan, 7 tahun.

 

Bagi sebagian besar mahasiswa/i, Wisuda adalah acara yang sangat istimewa. Sehingga hal yang umum di hari Wisuda, senyum manis bahkan gelak tawa kerap terdengar riuh rendah di udara.

 

Secara keseluruhan, mereka berpenampilan sama. Berbalut seragam kebesaran bernama Toga yang menutupi seluruh badan, dihiasi samir (kalung Wisuda) berhias lambang universitas, serta beberapa dilengkapi selempang Cumlaude. Properti yang satu ini sifatnya bonus, bagi mereka yang mampu mengumpulkan nilai yang ditentukan penyelenggara pendidikan. Selebihnya, peserta Wisuda bebas berkreatifitas sesuai aturan yang ada. Mereka berlomba-lomba berdandan cantik nan jelita, berlagak gagah lagi perkasa.

 

Biasanya wisudawan tidak banyak variasi, hanya menggunakan baju lengan panjang berwarna putih dan celana bahan serta sepatu formal. Sedangkan para wisudawati, maksimal menghias diri dengan kebaya aneka model, rambut digelung maupun kerudung berhias warna warni (Sesuatu yang justru membuat saya berpikir, mereka ini mau menghadiri Wisuda, atau pesta pernikahan mereka sendiri). Sepanjang hari, tak habisnya dan tak puasnya mereka berlakon di depan kamera. Semua bersuka cita, menutup sebuah perjuangan panjang yang telah dilalui bersama.

 

Rangkaian acara Wisuda sendiri, sejujurnya, sangat menjemukan. Wajar saja, di satu pelaksanaan Wisuda, pesertanya bisa mencapai ratusan, bahkan ribuan orang. Semua mengantri menjadi satu, menunggu satu proses puncak, yaitu ketika sang pimpinan tertinggi dari Universitas memindahkan Kuncir Tali Topi Toga, dari semula yang terletak di sebelah kiri, ke sebelah kanan.

 

Awalnya Saya Tak Mengerti, Apa Arti Pemindahan Kuncir Tali Tersebut.

Setelah mencari disana sini, info yang saya dapat pada pokoknya satu hal. Bahwa sejatinya, setelah kita menjadi Sarjana, kita tak boleh lantas terpaku dan melulu menggunakan otak kiri, yaitu otak yang berkaitan dengan hal-hal berbau akademis, seperti logika, analisis, bahasa dan matematis (pusat Intelligence Quotient (IQ)), melainkan juga harus menggunakan otak kanan, yaitu otak yang berkaitan dengan daya kreatifitas yang dipenuhi imajinasi, emisi, intuisi, dan spiritual (pusat Emotional Quotient (EQ)).

 

Intinya, seorang Sarjana dituntut untuk dapat menyeimbangkan penggunaan otak kiri dan kanan, berbekal ilmu pengetahuan yang didapat dari dunia pendidikan, disandingkan dengan ilmu berkehidupan sosial di masyarakat.  Selain itu, kuncir tali Topi Toga perlambang tali pita pembatas buku.  Dengan demikian, pemindahan kuncir tali tersebut menandakan bergantinya halaman demi halaman buku yang sepatutnya dibaca oleh yang bersangkutan, yaitu para Sarjana.  Agar tak melulu berjalan di tempat, “membaca” hal yang sama berulang-ulang.

 

Sebagai salah satu pelaku beberapa tahun silam, sekarang saya hanya bisa tersenyum simpul melihat euforia itu.  Ya, sebab saya sudah mengetahui kegetiran yang menanti dibalik semua suka cita itu. Yang siap menerkam siapa saja yang tak segera siap untuk membuka mata dan menghadapi realita.  Yang terasa lebih kejam dibandingkan ibu tiri yang bahkan dalam lakon Cinderella masih berbaik hati menyisihkan nasi untuk melalui hari.  Yang segera menampakkan taringnya diriing seringai manis.

 

Bisa dijamin, banyak halangan dan rintangan yang pasti menanti mereka.  Pilihannya hanya dua.  Antara berebut peluang, atau menciptakan peluang.  Tak ada yang salah dan yang benar, sebab keduanya saling melengkapi.  Satu  hal yang pasti, mereka dilarang menyerah.  Dengan kombinasi kerja keras dan sifat pantang menyerah, serta dibumbui beberapa faktor x disana sini, mereka, para Sarjana, pasti mampu menaklukkan dunia.  Atau paling tidak, membuat orang tua bangga.

 

Setidaknya, Wisuda menjadi ajang yang pantas untuk disyukuri.  Sebab tak banyak yang mampu menjejakkan kaki di garis itu.  Sebuah garis yang bermakna ganda.  Sebagai penutup dari sebuah perjuangan panjang dalam menuntut ilmu, serta garis pembuka kehidupan yang sesungguhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *